Jumat, 16 Desember 2011

Paradigm of the three research . . .


Paradigma kuantitatif

Paradigma kuantitatif merupakan satu pendekatan penelitian yang dibangun berdasarkan filsafat positivisme. Positivisme adalah satu aliran filsafat yang menolak unsur metafisik dan teologik dari realitas sosial.
Secara ontologis, obyek studi penelitian kuantitatif adalah fenomena dan hubungan-hubungan umum antara fenomena-fenomena (general relations between phenomena). Yang dimaksud dengan fenomena di sini adalah sejalan dengan prinsip sensory experience yang terbatas pada external appearance given in sense perception saja. Karena pengetahuan itu bersumber dari fakta yang diperoleh melalui pancaindera, maka ilmu pengetahuan harus didasarkan pada eksperimen dan observasi. Dalam penelitian kuantitatif diyakini sejumlah asumsi sebagai dasar ontologisnya dalam melihat fakta atau gejala. Asumsi-asumsi yang dimaksud adalah; (1) obyek-obyek tertentu mempunyai keserupaan/kesamaan satu sama lain, baik bentuk, struktur, sifat maupun dimensi lainnya; (2) suatu benda atau keadaan tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu; dan (3) suatu gejala bukan merupakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan, melainkan merupakan akibat dari faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Sejalan dengan penjelasan di atas, secara epistemologi, paradigma kuantitatif berpandangan bahwa sumber ilmu itu terdiri dari dua, yaitu pemikiran rasional dan data yang empiris. Karena itu, ukuran kebenaran terletak pada koherensi dan korespondensi. Koheren berarti sesuai dengan teori-teori terdahulu, serta korespondensi berarti sesuai dengan kenyataan empiris.

Paradigma Penelitian Kualitatif

Penelitian kualitatif adalah satu model penelitian humanistik, yang menempatkan manusia sebagai subyek utama dalam peristiwa sosial/budaya. Jenis penelitian ini berlandaskan pada filsafat fenomenologis dari Edmund Husserl (1859-1928) dan kemudian dikembangkan oleh Max Weber (1864-1920) ke dalam sosiologi. Sifat humanis dari aliran pemikiran ini terlihat dari pandangan tentang posisi manusia sebagai penentu utama perilaku individu dan gejala sosial. Dalam pandangan Weber, tingkah laku manusia yang tampak merupakan konsekuensi-konsekuensi dari sejumlah pandangan atau doktrin-doktrin yang hidup di kepala manusia pelakunya. Jadi, ada sejumlah pengertian, batasan-batasan, atau kompleksitas makna yang hidup di kepala manusia pelaku, yang membentuk tingkah laku yang ter-ekspresi secara eksplisit.
Secara ontologis, paradigma kualitatif berpandangan bahwa fenomena sosial, budaya dan tingkah laku manusia tidak hanya cukup dengan merekam hal-hal yang tampak secara nyata (real), melainkan juga harus mencermati secara keseluruhan dalam totalitas konteksnya. Sebab tingkah laku (sebagai fakta) tidak dapat dilepaskan atau dipisahkan begitu saja dari setiap konteks yang melatarbelakanginya, serta tidak dapat disederhanakan ke dalam hukum-hukum tunggal yang deterministik dan bebas konteks. Paradigma kualitatif meyakini bahwa di dalam masyarakat terdapat keteraturan. Keteraturan itu terbentuk secara natural, karena itu tugas peneliti adalah menemukan keteraturan itu, bukan menciptakan atau membuat sendiri batasan-batasannya berdasarkan teori yang ada. Atas dasar itu, pada hakikatnya penelitian kualitatif adalah satu kegiatan sistematis untuk menemukan teori bukan untuk menguji teori atau hipotesis.
Karenanya, secara epistemologis, paradigma kualitatif tetap mengakui fakta empiris sebagai sumber pengetahuan tetapi tidak menggunakan teori yang ada sebagai bahan dasar untuk melakukan verifikasi. Dalam penelitian kualitatif, ‘proses’ penelitian merupakan sesuatu yang lebih penting dibanding dengan ‘hasil’ yang diperoleh. Karena itu peneliti sebagai instrumen pengumpul data merupakan satu prinsip utama. Hanya dengan keterlibatan peneliti dalam proses pengumpulan datalah hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan.

Paradigma Studi Pustaka

Paradigma dalam studi pustaka adalah critical. realitas sosial yang ada dan diteliti tergantung pada seberapa banyak dilakukannya studi terhadap realitas tersebut dengan menelaah, mengkaji dan membaca berbagai literatur yang ada (buku-buku, literature, jurnal, artikel, skripsi dan lain-lain) fakta sosial terpisah dari konstruksi sosial, tetapi mesti diinterpretasikan untuk mengemukakan makna yang terkandung didalamnya, hal ini dimaksudkan bahwa dalam mengkaji berbagai literatur secara objektif untuk mengumpulkan hal-hal yang terkait dengan tema penelitian, dan mengkaji pemikiran tokoh secara subjektif (membaca literatur tokoh). Studi pustaka beranggapan bahwa research adalah aktivitas moral-politik dimana peneliti hadir dengan membawa sikap moral-politik yang akan diperjuangkan dengan mendasarkan pada data (literatur) dari lapangan.








Rabu, 07 Desember 2011

salam kenal


Salah satu alesan w  bikin blog ini adalah untuk nambah motivasi w buat rajin nulis lagi, coz dulu dulu alias waktu zaman SD zaman demen demennya nonton satria baja ireng di TV w sering dapet nilai bagus di mata pelajaran bahasa indonesia, palagi kalo ngarang ciee . . .nilai w paling gede di kelas (duh bangga bangetzz sih . . .mang udah berape tahun tuh bang?? Hahaha . . ) yah paling gak adalah yang bisa di banggain zaman w masih kecil . .hihi. trus kebanyakan tmn w ngomong kalo w tuh banyak bacot alias mulut besar eits banyak bacot disini bukan berarti w tukang gosip gitu guys pi w dulu sering bercerita tentang apa apa yang pernah w alamin, ga itu pengalaman, cerita dari buku & film, kejadian menarik yang pernah w liat dan rasain (bedanya ma pengalaman paan coba??). dari situ tmn2 w sering ngasih gelar w tukang dongeng ataupun tukang cerita . . ya sejenis kak seto kali ya?? Ampe tmn w yg pinter bahasa arab ngasih gelar w abu hikayah, tw tu paan artinye . . .mungkin masih sodara ma abu nawas kali ye? Haha . . .yang w bingung pada waktu itu pas w cerita depan tmn tmn w pasti mereka merhatiin mpe detail banget cerita ataupun omongan w tentang sesuatu gtu, ya walaupun ga semua atau 100% dari mereka merhatiin bener bener sih pa yang w omongin pi intiNa pasti ntar da yang nanya terus gimana ntuh lanjutan ceritanya or kampret bikin penasaran aje lu, trus gimana gi masa endingnya begitu doank? . . haha w pun menikmati peran w yang udah kaya kak seto beneran kalo gi cerita . . kadang w pancing di tengah tengah cerita lalu bagaimanakah kelanjutan ceritanya? Tunggu di episode berikutnya. . .wkwkwk yang ada w di timpukin ma gumpalan kertas bekas ma tmn tmn w. Pi semenjak lulus SMA and mulai kuliah w ngerasa keahlian w untuk bercerita kayak ilang di telan bumi pa karena w nemuin keahlian or skill w di bidang laen or what the hell lah . . .